Cak Nun, Sang Pejuang Budaya dan Konsep Keberagaman

Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun ini lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1953. Biografi Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara dari orangtua bernama MA Lathif yang merupakan seorang petani.

Budayawan dan cendekiawan Muslim ini berjuang sangat gigih dalam mempertahankan nilai-nilai budaya di seluruh pelosok negeri. Awal karirnya ia menjadi Pengasuh Ruang Sastra di Harian Masa Kini, Yogyakarta pada tahun 1970. Kemudian ia menjadi Wartawan/Redaktur di Harian yang sama pada 1973 sampai 1976. Perjalanan terserbut tercatat sebelum dirinya kondang menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng di masa sekarang ini.

Dalam Data Diri Cak Nun, ia juga pernah mengikuti sejumlah festival serta lokakarya puisi dan teater di luar negeri. Di antaranya mengikuti Lokakarya teater di Filipina pada tahun 1980, International Writing Program di Universitas Lowa – Amerika Serikat pada tahun 1984, selanjutnya pada tahun 1984 ia juga pernah ke Rotterdam – Belanda untuk mengikuti Festival Penyair Internasional, serta ke Berlin Barat – Jerman untuk mengikuti Festival Horizonte III pada tahun 1985. Di banyak forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, pembicaraan tentang pluralisme sering kali dimunculkan. Cak Nun yang menolak disebut Kyai itu juga ingin meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai Manajemen Keberagaman.

Dirinya selalu berusaha meluruskan beragam kesalahpahaman tentang suatu hal, baik kesalahan dalam makna etimologi maupun kontekstual suatu masalah. Misalnya saja mengenai sudah tidak adanya lagi parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. Ia mengatakan bahwa dakwah yang utama bukan lagi dengan kata-kata, namun dengan perilaku. Orang yang berperilaku dan berbuat baik sudah termasuk dalam berdakwah.

Itulah sedikit ulasan kami tentang Data Diri Cak Nun, semoga dapat menginspirasi Anda para pembaca.

Leave a Reply